Latest News

Citroroto,Cirowati,Citrogodo

Minggu, 14 Agustus 2011 , Posted by MANIKMAYA at 00.58



Citrowati
Dewi Citrawati adalah istri kedua Prabu Arjuna Sasrabahu dari negeri Maespati.Dewi Citrawati adalah kakak Prabu Citragada dari kerajaan Magada.Yang melamar Dewi Citrawati adalah utusan Prabu Arjuna Sasrabahu,bernama Patih Suwanda alias Bambang Sumantri.Sebelum membawa Dewi Citrawati ke Maespati,terlebih dahulu Patih Suwanda harus berperang melawan Prabu Darmawasesa dari Kerajaan Widarba dengan pasukan raksasanya.
Raja yang terkenal sakti itu sebenarnya telah lebih dahulu melamar Dewi Citrawati,tetapi Sang Dewi tidak menyukainya.Namun untuk terang-terangan menolak lamarannya,Prabu Citragada tidak berani.Setelah Patih Suwanda berhasil membunuh Prabu Darmawasesa,ia harus menyediakan syarat perkawinan lainnya,yaitu mencarikan Putri Domas atau Maru Domas,yakni 800 orang gadis yang bersedia menjadi madu Dewi Citrawati.
Setelah syarat itu dapat dipenuhi,Patih Suwanda kemudian memboyong Dewi Citrawati ke Maespati.Namun Patih Suwanda menjadi berubah pikiran setelah memasuki perbatasan Kerajaan Maespati,dia tidak meneruskan perjalanannya melainkan malah menantang rajanya,Prabu Arjuna Sasrabahu agar bersedia bertanding dengannya sebelum menyerahkan Dewi Citrawati.Karena tantangan ini Prabu Arjuna Sasrabahu menjadi marah,lalu triwikrama,tubuhnya berubah menjadi makhluk yang besar sekali yang disebut brahala.Melihat hal itu Patih Suwanda menjadi ketakutan dan segera mengaku kalah,maka Patih Suwanda pun akhirnya dipecat.
Sementara itu,setelah menjadi permaisuri Kerajaan Maespati,Dewi Citrawati membujuk suaminya,agar mau memindahkan Taman Sriwedari untuknya,dipindah secara utuh dari Kahyangan Untarasegara ke Kerajaan Maespati.Permintaan ini cukup memusingkan Prabu Arjuna Sasrabahu.Oleh Raja Maespati,tugas pemindahan Taman Sriwedari itu diberikan kepada Patih Suwanda alias Bambang Sumantri.Semula Patih Suwanda tidak sanggup,tapi untunglah ia bertemu adiknya,Sukrasrana.Adiknya inilah yang akhirnya membantu memindahkan Taman Sriwedari ke Maespati dalam keadaan utuh.
Dewi Citrawati yang dalam pewayangan diceritakan sebagai titisan Dewi Sri,ternyata banyak permintaannya.Dia karakter wanita yang selalu ingin memanfaatkan kekuasaan suaminya untuk kesenangannya sendiri.Sesudah pemindahan Taman Sriwedari berhasil,ia minta pada suaminya agar membendung Sungai Gangga untuk dia bisa berenang-renang bersama dayang-dayangnya.Guna menyenangkan istrinya,Prabu Arjuna Sasrabahu lalu melakukan triwikrama sehingga tubuhnya berubah wujud menjadi raksasa yang amat besar.Ia tidur melintang di sungai,sehingga tubuh besarnya berfungsi sebagai bendungan.Pembendungan sungai inilah yang akhirnya menyebabkan perang antara pasukan Alengka dengan Maespati.Waktu itu Prabu Dasamuka sedang memimpin tentaranya berkemah di tepi sungai itu.Akibat pembendungan yang dilakukan Prabu Arjuna Sasrabahu itu air Sungai Gangga meluap,menggenangi perkemahan bala tentara Alengka.Hal ini membuat marah Dasamuka.Bersama pasukan raksasanya,Dasamuka menyerang tempat Dewi Citrawati berenang.Bambang Sumantri alias Patih Suwanda mencoba menghalang-halangi serbuan tentara Alengka dan amukan Dasamuka,tetapi gagal,malah Patih Suwanda gugur di tangan Prabu Dasamuka.


 Citrarata
Prabu Citrarata sesungguhnya adalah Batara Citrarata ketika ia turun ke dunia sebagai manusia,dan menjadi raja di Martikawata.Raja tampan inilah yang membuat Dewi Renuka,istri Maharesi Jamadagni,mabuk kepayang sehingga ia melupakan suami dan lima anaknya.Tanpa mempedulikan lagi harkat dan martabat dirinya selaku wanita,Dewi Renuka menyerahkan tubuhnya pada Prabu Citrarata.Karena berbuat serong dengan Prabu Citrarata,Dewi Renuka dihukum mati oleh suaminya.Yang menjadi algojo pelaksana hukuman mati itu adalah Rama Bargawa,anak bungsunya sendiri.
Prabu Citrarata akhirnya mati di tangan Rama Bargawa,yang sengaja datang ke Kerajaan Martikawata untuk membalas dendam.Citrarata dipersalahkan telah menyalahgunakan kedudukan dan ketampanannya,sehingga mendatangkan musibah yang menimpa keluarga Rama Bargawa.Namun dalam kitab Mahabarata,keduanya tidak pernah berbuat serong,tetapi terkena fitnah diisukan serong.



 Citranggada
Prabu Citranggada atau Citrasoma adalah raja Astina.Ia putera Prabu Sentanu dan Dewi Durgandini.Adiknya yang seibu dan seayah bernama Wicitrawirya atau Citrawirya.Citranggada mempunyai kakak lain ibu,bernama Dewabrata yang sebenarnya lebih berhak menjadi raja Astina,karena ia putera sulung Prabu Sentanu.Namun karena Prabu Sentanu terlanjur berjanji pada Dewi Durgandini bahwa anak dari Dewi Durgandini lah yang akan mewarisi tahtanya,Dewabrata bersedia mengalah.Ia ikhlas adik tirinya yang naik tahta.
Citranggada naik tahta pada usia muda,menggantikan Prabu Sentanu yang meninggal dunia.Sebagai raja Astina,sebenarnya Prabu Citranggada tidak banyak berperan dalam pemerintahan.Dewabrata lah yang membantunya memerintah dan memperluas wilayah kerajaan Astina.Bahkan waktu Prabu Citranggada akan kawin,Dewabrata lah yang mencarikan jodohnya.Citranggada kawin dengan Dewi Ambika dan Ambalika,puteri Kerajaan Giyantipura yang dalam kitab Mahabarata disebut Kasi.
Prabu Citranggada meninggal dalam usia muda,ia gugur waktu Kerajaan Astina diserbu oleh bala tentara raksasa pimpinan raja raksasa sakti yang kebetulan namanya sama,Prabu Citranggada juga.Walaupun akhirnya raja raksasa itu mati di tangan Dewabrata,tetapi jiwa Prabu Citranggada tidak tertolong.Yang kemudian menjadi raja berikutnya adalah Wicitrawirya,bukan Dewabrata.Ketika Citranggada meninggal,ia belum sempat mempunyai putera.Dua orang jandanya kemudian menjadi istri Prabu Wicitrawirya.
Share this article on :

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Poskan Komentar